Deli Serdang – Upaya pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) terus dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak. Kali ini, Yayasan Anugerah Insan Residivis Sumatera Utara bersama Lapas Lubuk Pakam menggelar pelatihan kemandirian barista kopi sebagai bekal keterampilan bagi para WBP.
Kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam membangun harapan baru bagi WBP agar memiliki kemampuan yang dapat dimanfaatkan setelah kembali ke tengah masyarakat.
Pelatihan dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu:
Tahap pertama, pengenalan alat kopi dan jenis-jenis kopi
Tahap kedua, pemberian materi teori dan teknik barista
Tahap ketiga, ujian praktik serta pemberian sertifikat dari yayasan kepada peserta
Ketua Yayasan Anugerah Insan Residivis Sumatera Utara, Adhe Novi F, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian dalam mendorong perubahan positif bagi para WBP.
“Kami ingin mereka tidak hanya menjalani masa pembinaan, tetapi juga memiliki keterampilan yang bisa menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, Imam Syukri Syah Tarigan, S.Ag hadir sebagai narasumber yang memberikan motivasi dan pembinaan mental, sementara materi teknis barista disampaikan oleh Prawibowo, ST yang membimbing peserta secara langsung dalam praktik perkopian.
Turut hadir Bastian Surya selaku Kasi Binadik yang memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini sebagai bagian dari program pembinaan di dalam lapas.
Sementara itu, Kepala Lapas Lubuk Pakam, Hakim Sanjaya, A.Md.P., S.H., M.H, mengapresiasi kolaborasi yang terjalin antara pihak lapas dan Yayasan Anugerah Insan Residivis Sumatera Utara.
“Kegiatan ini sangat positif karena memberikan bekal nyata bagi WBP agar siap kembali ke masyarakat dengan keterampilan yang bermanfaat,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para WBP dapat memiliki peluang baru dalam kehidupan setelah menjalani masa pembinaan, serta mampu menjadi pribadi yang mandiri dan produktif.
Kolaborasi antara lembaga pemasyarakatan dan yayasan sosial seperti ini menjadi bukti bahwa pembinaan tidak hanya berfokus pada masa hukuman, tetapi juga masa depan.
AL
